Thursday, 4 February 2010

See, my Orchard

kebon di samping rumah yang mirip hutan tropis



Hari ini DF Nuansa sedang merancang sesuatu, maka dari itu temenku Husna datang ke Muntilan karena aku dan Intan masih ada di Muntilan. Sebenernya sang KepSek baru aja balik dari kampung halamannya ke Yogyakarta, tapi dia masih capek dan barusan sakit demam, jadi ya cuman bertiga di rumah Intan.
Ceritanya nggak di rumah Intan sih, tapi di rumahku...jadi langsung loncat aja ya, toh itu di atas kan acaranya ra-ha-sia, hehe...

Si Husna mau pulang, aku bonceng dia waktu turun dari rumah Intan *turun karena rumahnya hampir di lereng merapi*, kupikir cuman di antar sampai kecamatan aja eh..dia sekalian mau main ke rumahku...mumpung katanya. Oh, welcome aja kalau mau ke rumah, hehe...sekalian aku nggak keluar duit buat naik angkutan, kikikik



Di rumah, pohon rambutanku lagi berbuah, ada dua macam..ah, kalau soal nama jenisnya aku nggak inget, yang penting kan makannya, hehe. Di pekarangan rumahku kan ada beberapa pohon, nah tadi tuh aku ma Husna sambil metik buah rambutan--yang sangat tinggi, nggak ada yang batangnya ke bawah, harus pake galah--terus ngobrolin apa aja yang ada di situ..ada pohon pace, sedang berbuah banyak dan buahnya dibiarin jatuh membusuk..si Husna yang mantan bendahara Nu dan berotak bisnis itu langsung ngusulin buat njual buah pace di pasar. Terus ngomongin pohon manggis yang ditanamnya pas aku SD tapi sampai sekarang tingginya masih sepundakku...boro-boro berbuah...masih kecil banget itu mah . Terus ada pohon yang membuatku penasaran *padahal aku udah tinggal di situ selama 21 tahun*, daunnya kayak daun pohon nangka, tapi terlalu lebar...lebih-lebih di sampingnya juga ada pohon nangka betulan, akhirnya waktu ibu ikutan metik rambutan bertanyalah kami..oh, itu pohon cempedak. Hah..apakah itu? seperti nangka, tapi mirip durian juga...hem, hem...agak mikir lama, kayaknya belum pernah makan deh. Dan aku pun bertanya-tanya...apakah semacam percampuran dari bibit nangka dan bibit durian? blaster gitu...haha
Pohon yang lainnya juga nggak luput dari gosipan kami, ada bambu, melinjo, sukun, belimbing *dua macam, blimbing yang bentuknya bintang itu ma belimbing wuluh*, dan durian *pohon tetangga*, dan primadona dari semua pohon adalah pohon rambutanku yang aneh sekali. Bayangkan ya... satu pohon itu menghasilkan rambutan tiga macam, pertama rambutan yang gondrong, rambutan yang agak gondrong, dan rambutan cepak atau rada gundul. Kukira itu dari pohon tetangga yang emang saling berkaitan dahannya dengan dahan pohon rambutanku...tapi ternyata enggak...pohon rambutan tetangga adalah jenis rambutan yang gondrong dan buahnya berair, sedangkan punyaku nggak terlalu berair. Jangan-jangan spesies campuran lagi ini pohon...

Capek metik rambutan si Husna nyeletuk...rumahmu udah ada kebon, tapi sayang...ada yang kurang. "apa?" tanyaku. "Kolam..." eits, jangan salah...kolam? ada dong . Kami pun beralih dari pekarangan samping ke belakang rumah...semacam tawaf deh. Si Husna berhasrat untuk nyebur tapi dia nggak sangu ganti, pas aku tawarin pake punyaku nggak mau, ya udah...nelen ludah aja. Soal ikan, ada lele dan nila. Dan aku baru liat ada lele yang udah sebesar betis orang dewasa, panjangnya hampir setengah meter *ketahuan nggak pernah keluar rumah kalau udah pulang tuh*, di atasnya ada kandang ayam ma mentok, hem hem...jadi inget tadi pagi bapakku masak ayam, aku diminta jadi asisten koki tapi harus ke rumah Intan..oh
Itulah akhir pelajaran biologi
pohon manggis yang ditanam sejak aku SD, kapan kau akan berbuah nih
pohon rambutan yang berbuah tiga macam


pohon rambutan yang lain

No comments:

Post a Comment