Salah satu perlengkapan bayi yang wajib dibeli terutama buat pasangan yang menantikan anak pertama adalah boks bayi (kaya udah pengalaman aja). Sekarang ini ngga cuma bahannya dari macem-macem, bentuknya pun lucu-lucu. Tapi kadang bahan yang sekarang dipakai belum tentu awet dan bisa dipakai untuk generasi berikutnya... 
Nah, saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, terus apa hubungannya sama cerita ini? tunggu dulu...simak dong. Jarak saya dengan kedua mbak saya cukup jauh. Mbak pertama lahir tahun 1976 dan mbak kedua lahit tahun 1980...sedangkan saya...ehm, pokoknya jaraknya 12 dan 8 tahun deh, hihi
Dahulu kala (bukan..bukan mau cerita zaman kerajaan Majapahit koq), barang-barang mebel/furniture kebanyakan dibuat dari kayu jati. Di rumah banyak furniture dari kayu jati mulai dari dipan yang 5 biji...double bed semua bahkan satu yang king size, lemari berapa biji masing-masing kamar ada, meja belajar (tempat saya ngetik ini)
hohoho, bisa dibayangkan sekarang kalau angkat-angkat barang di rumah perlu berapa orang (cuman satu sih, bapak saya yang lelaki seorang). 
Zaman dulu juga masih jarang kan yang jual peralatan bayi, ngebandingin sama yang sekarang...toko-toko peralatan bayi, baik yang offline maupun online, menyediakan alat-alat yang lengkap dari yang besar-besar seperti boks itu tadi, kasur, stroller, tas sampai yang kecil-kecil macam kaos kaki...yang ngga cuman fungsional tapi juga lucu >,< ih, jadi pengen punya. Karena itulah, waktu mau punya anak pertama, bapak ibu saya pesan boks bayi dari tukang kayu (ya iyalah, masa pande besi). 
Kalau orang yang punya ilmu dan ilmunya diamalkan terus menerus, diturunkan turun temurun kan bisa menjadi tabungannya kelak di yaumul hisab. Begitu juga dengan boks yang dipesan ibu dan bapak saya...kalau itu orang, pasti amalnya udah banyak banget... (berarti yang beramal tukang kayunya dong, oon) iya sih...tapi itu jadi ngga sesuai dengan judulnya #lemparsendal. Oke, balik lagi...memang tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tukang kayu yang entah siapa saya pun tidak kenal, bagi saya barang-barang itu juga makhluk. Makhluk dicipta biar apa, biar berguna kan. Barang akan berguna kalau dipakai.
Bahkan barang yang jarang dipakai akan cepat rusak dibandingkan barang yang dipakai terus menerus (dengan catatan dipakai dengan wajar dan dirawat lho ya). Nah, boks bayi tahun 1976 itupun masih awet (dan mungkin makin kokoh secara kayu jati gitu) sampai sekarang...karena setelah dipakai mbak saya, diturunkan ke mbak saya yang kedua...terus dipakai sepupu, baru giliran saya, kemudian sepupu saya yang lain...beserta adik-adiknya dua biji #eh orang, lalu sepupu jauh...dan saat ini kabar baru-baru dipakai tetangganya sepupu saya. Andai itu boks bisa bicara, pasti udah cerita pengalaman hidupnya diompolin berbagai macam manusia mungil nan imut.
sumber gambar: http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=13630382
Gambar aslinya ngga ada
*nemu yang agak mirip, tapi yang asli ngga ada lemari bawah dan bagian bukaannya nggak cuman sekali njeplak tapi dua kali, jadi bisa ditutup separo aja, memudahkan ngambil/naruh bayi dan mengurangi risiko bayi jatuh* #eh <~ bukan promosi loh
untuk diikutkan lomba menulis di: http://faridazp.multiply.com/journal/item/773/Lomba-Kasih-Sepanjang-Masa-?replies_read=111
Wah kalo jati sih dah pasti awet ya. Tp iya bawanya beraaattt hihihi. .
ReplyDeleteWaaa...subhanalloh
ReplyDeleteJadi inget box bayi punyaku sewaktu bayi dulu
dari rangka besi, dipake waktu aku masih bayi, adikku, sepupu2 yang banyak....
lalu kemudian dipake juga ke anakku halwa
Ahhh...kangennya, kemana ya box itu sekarang?!?
#aiih koq nanya sama mba Fatima yah heuheu